Ki Ageng Suryomentaram memang terkenal dengan pemikirannya yang dalam tentang kehidupan, dan pandangannya terhadap manusia berangkat dari refleksi diri yang mendalam. Citra manusia menurutnya bukan hanya berfungsi sebagai individu dalam dunia yang melingkupinya, tetapi juga mencerminkan suatu proses keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan alam semesta di sekitarnya.
Dalam pemikirannya, prinsip NEMSA (6-SA) sangat penting, karena mencerminkan cara hidup yang sederhana namun bermakna. Berikut ini saya coba uraikan makna dari NEMSA (6-SA):
-
Sakepenake: "Sesuaikanlah dengan kebutuhan," artinya hidup harus berjalan sesuai dengan keperluan dan bukan berdasarkan ambisi atau keinginan yang berlebihan.
-
Sabutuhe: "Bersikaplah apa adanya," ini adalah prinsip untuk menerima keadaan diri dan hidup dengan penuh rasa syukur. Suryomentaram mengajarkan bahwa manusia harus hidup dalam keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri.
-
Sacukupe: "Cukupkanlah," berarti tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Hidup cukup dengan apa yang ada, tidak terobsesi dengan yang lebih atau berlebihan.
-
Samesthine: "Sesuaikanlah dengan takdir," ini mencerminkan sikap menerima takdir atau nasib. Manusia diingatkan untuk tidak melawan takdir yang sudah digariskan, namun tetap berusaha sebaik mungkin.
-
Sabenere: "Jadilah apa adanya," mengajarkan tentang kejujuran dalam menjadi diri sendiri tanpa perlu meniru orang lain atau mengejar citra yang tidak asli.
Sedangkan mengenai keinginan, Suryomentaram berpendapat bahwa sumber ketidakbahagiaan seringkali berakar dari ambisi manusia untuk mencapai hal-hal yang bersifat sementara dan tidak abadi, seperti semat, drajat, dan kramat.
-
Semat (kekayaan, kecantikan, kesenangan fisik) adalah bentuk keinginan duniawi yang sering membuat manusia lupa diri.
-
Drajat (status sosial, keluhuran) adalah keinginan yang berkaitan dengan bagaimana orang lain memandang kita, yang membuat kita terjebak dalam pencapaian sosial.
-
Kramat (kekuasaan, kedudukan, pangkat) adalah keinginan untuk menguasai, yang seringkali menumbuhkan kesombongan dan rasa tidak pernah cukup.
Keinginan-keinginan ini bisa menjadi sumber penderitaan jika tidak dikelola dengan bijaksana. Menurutnya, cara terbaik untuk menemukan kebahagiaan adalah dengan meredakan keinginan tersebut, dan menjalani hidup sesuai dengan prinsip hidup sederhana yang digariskan dalam NEMSA (6-SA).
Sumber :

Tidak ada komentar
Posting Komentar