Para Pembajak Makelar Seni Sedang Berkeliaran, Dunia Kreatif dalam Ancaman Sunyi

Oleh: Redaksi Imaji Liar

Dunia seni kembali dihebohkan. Bukan oleh karya fenomenal atau pameran luar biasa, melainkan oleh maraknya makelar seni yang kini naik pangkat menjadi “kurator dadakan”, “penggerak budaya”, atau “juru selamat ekonomi kreatif”. Mereka datang dengan lencana kosong dan jargon manis, berkeliaran dari satu ruang kreatif ke ruang lainnya, membawa proposal, bukan karya.

Para pembajak ini tidak datang membawa cat, kuas, atau ide segar. Mereka datang membawa rencana bisnis, akta kerja sama, dan janji-janji pendanaan. Mereka bukan pelaku seni, tapi pelaku yang bermain di seputar seni, mengklaim ruang dan peran tanpa pernah benar-benar menciptakan apapun kecuali jaringan—dan tagihan.

“Mereka ini seperti komodo di galeri. Diam-diam mematuk, lalu membuat ekosistem jadi lesu,” ungkap seorang seniman muda yang memilih anonim, takut dibekukan dari lingkaran proyek.

Fenomena ini merajalela sejak istilah “ekonomi kreatif” jadi tren pemerintah dan kata “budaya” jadi alat branding. Segala yang berbau seni kini dianggap lahan subur untuk eksploitasi dana, pencitraan, dan perburuan legitimasi sosial. Ruang-ruang alternatif yang semula lahir dari keresahan kini digusur secara halus oleh agenda-agenda “kemitraan strategis” yang lebih mementingkan laporan ke instansi dibanding dampak ke komunitas.

Di balik poster “kolaborasi budaya” dan “panggung lintas generasi”, seniman lokal diposisikan hanya sebagai pemanis. Sementara para makelar—dengan kartu nama cetak tebal dan bahasa asing secukupnya—membajak ide, menjualnya ke pihak ketiga, dan menyisakan remah untuk para pencipta sejati.

Masyarakat umum sering terkecoh. Bukankah mereka memakai batik dan bicara tentang pelestarian? Bukankah mereka berdiri di depan mural dan menyebut nama-nama seniman yang bahkan tak mereka pahami karyanya?

Sayangnya, industri diam saja. Media bungkam, terlalu sibuk memuat daftar “10 kreator muda paling inspiratif versi sponsor”. Sementara itu, para pembajak terus berkeliaran, berpindah dari satu forum ke forum lain, membangun kerajaan di atas reruntuhan idealisme.

Yang tersisa hanyalah suara-suara sumbang yang terdengar seperti iri hati. Padahal, ini bukan tentang iri, tapi tentang etika. Tentang siapa yang seharusnya bicara ketika panggung bicara soal seni. Tentang siapa yang mendapat ruang, dan siapa yang dibungkam dengan dalih profesionalitas.

Para pembajak makelar seni sedang berkeliaran. Dan jika kita diam saja, jangan kaget ketika suatu hari, panggung kesenian tak lagi punya tempat bagi seniman.

SUMBER :


https://ceritaseni.com/makelar-seni-di-indonesia-dan-mafia-dunia-kreatif-mengungkap-sisi-gelap-industri-seni/